Di milis dan banyak pertemuan,
gencar dibicarakan soal melestarikan hutan.

Yang pemerintah sibuk dengan peraturan,
yang akademisi sibuk berteori,
yang LSM sibuk bikin partai lingkungan.

Jika berbicara, semua lantang bergemuruh,
"kamilah satu-satunya ksatria baja hijau,
pembela lingkungan, pengayom masyarakat".
Kalau diberi not balok, iramanya beda,
cara nyanyinya beda.
Yang sama cuma mangap-nya saja.

Nun jauh disana, utara kalimantan,
sekelompok kecil masyarakat Punan,
diam-diam menanam pohon.
Delapan ribu bibit sudah ditanam, untuk menandai wilayahnya,
"juga untuk anak-cucu kami", tidak dengan nada palsu.

Menyusul, babi hutan dan hewan-hewan liar mereka senangkan,
dengan menanam pohon-pohon buah
kesukaan para satwa hutan itu.
"babi-babi kami senangkan,
supaya mereka bisa menyenangkan kami juga
kalau nanti kami buru",
terkekeh mereka mengucapkannya.

Mereka bahkan bertukar cerita,
dengan Penan dari negara tetangga,
yang sebenarnya bukan tetangga, tetapi keluarga.

Cerita tentang bagaimana buldoser merusak hutan mereka,
bagaimana rencana perkebunan sawit membuat mereka was-was,
bagaimana slogan kabupaten konservasi cuma sebatas poster
dan hanya untuk pengumpulan penghargaan belaka.
Juga cerita tentang air sungai yang semakin cepat keruh,
dan banjir yang semakin sering dirasa.

"kalian masih bagus, air kami sudah tak lagi sihat",
saudara dari Serawak mengingatkan
supaya rajin bersyukur,
karena hutan disini masih lebih baik
dibanding hutan di negaranya.

"minta si anu cepat balik, kami rindu padanya",
begitu kalimat perpisahan.
Meminta bantuan untuk menyampaikan
pada saudara mereka yang belasan tahun
tak kunjung pulang kampung.
Ternyata, mereka mengenal banyak orang yang sama.

Sementara di kota-kota,
Seminar demi seminar, peraturan demi peraturan,
dan barisan orang-orang yang seolah-olah berpihak pada masyarakat hutan,
terus saja bergemuruh membendung milyaran uang.

Punan Indonesia dan Penan Sarawak bertemu, diam-diam saja.
"Kami saling belajar saja,
siapa tahu ada yang bisa bermanfaat
untuk anak-cucu nanti",
lirih saja suara itu.

[Penan bertemu Punan, Hutan Adiu, November 2008]

[sumber: http://priyandoko.blogspot.com/2008/11/anda-bicara-banyak-mereka-sudah-berbuat.html]

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Posted by panthom on 29 January 2009
categories: | edit post

0 comments

Admin Control Panel

New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

Tentang Kami

Lembaga yang bertujuan membantu masyarakat lokal mempertahankan hutan dan tanah. Tanpa hutan dan tanah, masyarakat dayak yang serabutan (hidup berserah pada alam, tanpa rasa ingin memiliki suatu wilayah, karena tanah yang mereka injak, itulah rumah kami) akan tercerabut dari akarnya

Tag Cloud

Film (3) Berita (2) Gaharu (1)

Berita

Langganan Berita

Followers