"Mereka suka membalik-balik nama saya, yang benar adalah Boro Suban Nikolaus, tapi tak apalah, tak penting soal nama", begitu ia berujar pada saya saat kami berbincang di atas perahu bertambat, akhir Oktober tahun lalu, di atas danau Sentarum.

Pak Niko, begitu ia kerap dipanggil. Itu saat-saat pertama saya bertemu langsung dengannya, setelah sekian lama saya kenal baik nama dan bantuannya pada kami. Sejak tahun 1992 saya mengenal namanya, hanya nama, sebagai satu-satunya kontributor dari utara Kalimantan untuk majalah GAHARU, majalah yang diterbitkan PLASMA, sebuah LSM dimana dulu saya bekerja. Nama "Nikolaus Boro" menjadi penghias halaman redaksi setiap kali GAHARU terbit. Setelah sekian lama saya hanya mengenal nama dan karyanya, minggu ini, saya menghabiskan waktu bersama Pak Niko, begitu ia akrab dipanggil. Saya sedang membantunya membereskan organisasi kecilnya.

Pak Niko sudah berumur, mungkin 50-an. Rambutnya lebih didominasi uban, kontras dengan kulitnya yang gelap. "Saya memang orang Timor yang bekerja untuk Kalimantan", katanya sambil tersenyum di depan satu-satunya komputer tuanya. Ya, Pak Niko masih harus sesekali bekerja dengan komputernya, disela-sela kesibukannya membantu Masyarakat Punan Adiu dan komunitas Timor di Malinau ini.

Kesederhanaan Pak Niko ternyata sama sekali tidak mencerminkan masalah dan perannya di kabupaten itu. Ia menjadi ketua bidang politik saat Bupati yang menjabat saat ini mencalonkan diri. Ia harus pula turun tangan jika terjadi perselisihan yang menjurus kepada problem etnis. Ia juga harus masih dan terus berurusan dengan orang-orang pemerintah dan investor karena kegigihannya menolak ekspansi kebun kelapa sawit yang mengancam kawasan-kawasan berhutan. Bukan sekali pula ia menolak rupiah yang ditawarkan agar ia bungkam dan bersekutu. "Apa yang sesungguhnya kau mau?" begitu ia menirukan ucapan orang-orang yang tak suka padanya.

Suatu kali, satu pertanyaan sensitif datang padanya, "Kamu dari Timor, apa kepentinganmu membantu masyarakat Punan? Berapa kamu dapat uang dari menjual mereka?". Ia sudah fasih mendengar pertanyaan-pertanyaan tak suka itu. Ia menjawab dengan caranya sendiri, cara seorang Nikolaus Boro Suban. Bahkan pun pada tuduhan menjual masyarakat seharga 200 juta rupiah, ia menjawab dengan caranya sendiri. "Saya jawab semua itu dengan kerja, dan hasil nyata", katanya sambil tersenyum.

Boro Suban Nikolaus tetap bekerja, hanya melirik sebentar pada cibiran mereka yang tak suka, lalu bergegas bekerja lagi. "Saya tak punya waktu mengurusi hal begitu", gumamnya.

Sumber=
http://priyandoko.blogspot.com/2008/01/boro-suban-nikolaus.html

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Posted by Dwi Lesmana on 24 January 2008
categories: | edit post

0 comments

Admin Control Panel

New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

Tentang Kami

Lembaga yang bertujuan membantu masyarakat lokal mempertahankan hutan dan tanah. Tanpa hutan dan tanah, masyarakat dayak yang serabutan (hidup berserah pada alam, tanpa rasa ingin memiliki suatu wilayah, karena tanah yang mereka injak, itulah rumah kami) akan tercerabut dari akarnya

Tag Cloud

Film (3) Berita (2) Gaharu (1)

Berita

Langganan Berita

Followers